Rabu, 18 Januari 2012

Laporan praktikum reptilia2

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Reptilia adalah salah satu hewan kelas vertebrata dalam kelompok hewan yang melata. Seluruh hidupnya sudah menyesuaikan diri dengan kehidupan darat, tidak membutuhkan air lagi untuk pertumbuhan embrionya karena tidak memiliki tingkat larva. Kulit diselaputi sisik keras atau kepingan dari bahan tanduk. Yang bertubuh besar dibawah sisik ada kepingan tulang, untuk memperkuat daya perlindungan dilengkapi dengan eksoskelet, ekor panjang, jari-jari bercakar, poikiloterm, bernafas dengan paru-paru saja, pembuahan di dalam tubuh dan ovipar. Kromatofora pada beberapa jenis dapat mengembang dan menguncup sehingga warna kulit berubah sesuai dengan keadaan lingkungan didekatnya. Kulit tidak memiliki lendir, memiliki kloaka, kemih dan beberapa jenis asam urat dalam fase padat bergabung dengan tinja dan keluar bersama-sama lewat dubur, tidak minum dan menyesuaikan diri hidup di tempat kering. Terdiri dari empat ordo yaitu Lacertillia (kadal), Ophidia (Ular), Chrocodilia (buaya) dan Chelonia (penyu). (Iskandar, 2000).
Tubuh reptil umumnya tertutupi oleh sisik-sisik yang beraneka bentuk, terkecuali anggota suku Amphisbaenidae yang tak bersisik. Sisik-sisik itu berupa modifikasi lapisan kulit luar (epidermis) yang mengeras oleh zat tanduk, dan terkadang dilengkapi dengan pelat-pelat tulang di lapisan bawahnya, yang dikenal sebagai osteoderm.Beberapa bentuk sisik yang umum pada reptil adalah: sikloid (cenderung datar membundar), granular (berbingkul-bingkul), dan berlunas (memiliki gigir memanjang di tengahnya, seperti lunas perahu).
Perbedaan bentuk dan komposisi sisik-sisik ini pada berbagai bagian tubuh reptil biasa digunakan untuk mengidentifikasi spesies hewan tersebut.Integument pada Reptilia umumnya juga tidak mengandung kelenjar keringat. Lapisan terluar dari integument yang menanduk tidak mengandung sel-sel saraf dan pembuluh darah. Bagian ini mati, dan lama-lama akan mengelupas. Permukaan lapisan epidermal mengalami keratinisasi. Lapisan ini akan ikut hilang apabila hewan berganti kulit. Pada Calotes (bunglon) integument mengalami modifikasi warna. Perubahan warna ini dikarenakan adanya granulea pigment dalam dermis yang terkumpul atau menyebar karena pengaruh yang bermacam-macam. Pada calotes (bunglon) perubahan ini relatif cepat, karena selalu dibawah kontrol sistem nervosum outonomicum.
Reptilia merupakan kelompok hewan yang hidupnya merayap atau merangkak di dalam habitatnya. Reptil juga tergolong ke dalam hewan yang berdarah dingin. Beda reptil dengan amphibi adalah melakukan perbiakan di darat. Tubuh reptil ditutupi oleh sisik-sisik atau plot-plot dari bahan tanduk (horny scales or plates) (Djuhanda, 1982).
Reptilia merupakan pemangsa serangga (insektor). Giginya runcing, sering muncul kelenjar racun. Alat gerak reptilia berupa kaki. Pada ular, kaki sudah hilang. Alat tubuh yang tidak tumbuh atau menjadi mengecil disebut rudimeter. Ada juga kaki yang berupa sirip untuk berenang (Djuhanda, 1982).
Reptilia tubuhnya tertutup dengan sisik tanduk, kecuali ular, kebanyakan reptilia mempunyai cakar dan rusuk-rusuk yang digunakan untuk menyedot udara ke dalam paru-paru. Columna vertebralis yang melekat pada gelang pinggul lebih kokoh daripada nenek moyangnya yang berupa amphibia. Padanya ada bagian-bagian dari jantung dan pembuluh darah yang bertalian merupakan struktur tunggal yang khas untuk kelas ini, tidak memberikan kepastian yang cukup untuk membedakan vertebrata lainnya (Iskandar, 2000).
             
1.2  Tujuan Penelitian
1.    Untuk mengetahui morfologi dari tokek ( Gecko gecko )
2.    Untuk mengetahui anatomi dari tokek ( Gecko gecko )
3.    Untuk mengetahui fisiologi dari tokek ( Gecko gecko )

BAB II
TINJAUN PUSTAKA

Reptilia menunjukkan kemajuan dibandingkan amphibia. Hal ini ditunjukkan dengan mempunyai penutup tubuh yang kering dan berupa sisik yang merupakan penyesuaian hidup menjauh air. Extremitas cocok untuk gerak cepat, adanya kecendrungan ke arah pemisahan darah yang beroksigen dalam jantung, sempurnanya proses penulangan, telur sesuai sekali untuk pertumbuhan darah, mempunyai membran dan cangkang guna untuk melindungi embrio. Bentuk luar tubuh reptilia bermacam-macam yaitu ada yang bulat pipih (kadal, buaya), umumnya tubuh dapat terbagi atas cephal, cervix, truncus dan caudal. Pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu kulit dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total yaitu pada anggota Sub-ordo Ophidia dan pengelupasan sebagian pada anggota Sub-ordo Lacertilia. Sedangkan pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit. (Jasin, 1992).
Penamaan kelas Reptilia (L. Reptum = merangkak) berkaitan dengan cara berjalan anggota- anggotanya yakni merangkak, merayap. Herpetologi adalah ilmu yang mempelajari tentang reptilia maupun amphibia. Reptilia dinyatakan hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru- paru. Secara anatomi reptilia menduduki tempat penting dalam rangkaian perkembangan hewan vertebrata, karena anatomi reptilia merupakan “intennediate” antara amphibia dan aves. Perbandingan struktur dan sifat- sifat fisiologis dengan amphibia dengan burung sangat berimbang. (Adeng, 2007).
Secara filogeni reptilia diturunkan dari amphibia kelompok Labyrinthodontia sekitar  50 juta tahun setelah amphibia berkembang. Dari zaman permianian hingga zaman kreta, reptilia merupakan vertebrata yang paling banyak dan dominan serta mencapai puncak kejayaanya di antara vertebrata lainnya. Selama masa perkembangannya, reptila telah muncul beberapa genera mulai dari yang kecil sampai besar, dari herbivora sampai karnivora, dan dari yang lamban sampai ke yang lincah terpencar di berbagai macam habitat. Sejak waktu itu reptilia menjadi besar dan kelasnya bermacam- macam. Beberapa kelompok kembali ke habitat air menjadi perenang ulung, kelompok lain behkan menyerbu udara. Oleh karena itu tek mengherankan apabila reptilia pun menurunkan anggota- anggota dari kelas lainnya. (Adeng, 2007).
Reptilia merupakan hewan berdarah dingin yang dibagi kepada empat ordo. Reptilia tersebar diseluruh dunia dari kawasan padang pasir yang kering, di dataran tinggi maupun rendah, sampai beratus meter di dalam laut (Hickman, 2003).
Dikarenakan reptilia berdarah dingin, mereka tidak dapat memulai suhu badan mereka. Hewan reptilia mempunyai kulit yang bersisik atau berketul yang terdiri dari selaput bertulang atau bergading, mempunyai kaki yang pendek atau tidak mempunyai kaki. Kebanyakan reptilia bertelur (ovipar), walaupun sebagian adalah menyimpan telur di dalam perut induk hingga menetas.
Beberapa tanda umum dari reptilia adalah badan tertutup kulit yang menanduk, kadang- kadang sebagai sisik dan tidak berlendir. Adanya dua pasang kaki dengan 5 jari berfalcula, tetapi ada beberapa golongan yang mengalami reduksi menjadi tidak mempunyai extremitas, misalnya ular.

Karakteristik Umum Reptilia
1.      Tubuh di tutupi kulit kering menanduk, biasanya dengan sisik ektodermis (epidermis) atau scutes, hampir tidak mengandung kelenjar kulit, pada buaya ditutupi lempeng- lempeng tulang di bawah epidermis.
2.      Dua pasang anggota gerak, masing- masing dengan lima jari (pentadactyli) dan dengan cakar bertanduk, sesuai untuk berlari, merayap dan memanjat. Pada beberapa anggota mengalami modifikasi menyerupai dayung (paddle) seperti pada penyu laut, mereduksi pada beberapa golngan kadal bahkan tidak ada pada kadal tertentu dan seluruh golongan ular.
3.      Rangka dengan osifikasi sempurna, tengkorak dengan satu occipital condyle. Tengkorak terdiri dari 4 macam (digunakan sebagai dasar klasifikasi pada tingkat kelas), yaitu:
a.       Anapsida, yaitu tengkorak tanpa lubang di belakang mata.
b.      Synapsida, yaitu tengkorak punya sebuah lubang di belakang mata, terletak di atas tulang postorbital,jugal, quadrojugal, dan squamosal.
c.       Parapsida, yaitu tengkorak dengan lubang di belakang mata, terletak di antara tulang parietal, post orbital dan squamosal.
d.      Diapsida yaitu tengkorak dengan dua lubang. Lubnag atas terletak diantara tulang orbital, potorbital dan squamosal. Lubang bawah terletak di antara postorbital, squamosal dan quartojugal.

4.      Jantung dengan empat ruang yang kurang sempurna, dua atrium dan sebuah ventrikel yang terbagi.
5.      Respirasi hampir seluruhnya dilakukan oleh paru- paru, kecuali pada beberapa anggota seperti penyu: pernapasannya di bantu oleh dinding kloaka dan dinding faring yang abnyak mengandung pembuluh- pembuluh darah.
6.      12 pasang saraf kranialis
7.      Eksrkesi dengan ginjal tipe metanefros seperti pada burung dan mamalia, sampah nitrogen terutama asam urat pada kadal, ular dan chelonia darat.
8.      Suhu tubuh berubah- ubah (ektoterm) sesuai suhu lingkungan.
9.      Fertilisasi internal, biasanya dengan organ kopulasi, telur besar dengan banyak yolk, dan diletakkan di darat, atau tertahan untuk perkembangannya seperti pada beberapa jenis kadal dan ular.
10.  Segmentasi meroblastik, membran embrionik (amnion, chorion, kantung yolk dan allantois) ada selama perkembangan, hewan muda ketika di tetaskan (atau lahir) menyerupai induknya, atau perkembangan langsung dari telur menjadi hewan reptil tanpa melalui stadium larva (tidak ada metamorfosis).

Perbandingan Reptilia dan Amphibia
Reptilia memperlihatkan beberapa derajat kemajuan dari pada amphibia yang menyebabkan kelompok ini lebih sukses hidupnya dalam hal:
1.    Sisik kering yang menutupi tubuh di adaptasikan untuk kehidupannya lepas dari air.
2.    Anggota gerak sesuai untuk lokomasi yang cepat.
3.    Pemisahan darah kaya oksigen dan miskin oksigen yang lebih maju dalam jantung.
4.    Rangka mengalami osifikasi yang sempurna.
5.    Telur cocok untuk perkembangan di darat dengan membran dan cangkang untuk melindungi embrio.

Reproduksi Reptilia
Cara reproduksi reptilia merupakan peralihan (intermedier) antara anamniota (ikan dan amphibia) dengan mamalia. Fertilisasinya internal, beberapa reptilia meletakkan telurnya di luar tubuh untuk berkembang, namun beberapa jenis embrionya berkembang internal dengan cara menahan telurnya di dalam tubuh ketika kondisi untuk mendeposisikannya tidak cocok (unfavorable), seperti pada ular berbisa; viper. Tapi jika dilihat dari kulit telurnya serupa dengan telur burung, ditutupi oleh suatu cangkang yang keras dengan membran cangkang di dalamnya, banyak mengandung yolk untuk perkembangan embrionya selama perkembangannya embrio diselaputi oleh membran embrio amnion, chorion dan allantois, ini merupakan sifat baru dalam vertebrata yang muncul pada reptil. Amnion berfungsi untuk melindungi embrio dari kekeringan dan goncangan- goncangan, sedangkan allantois dan chorion berperan dalam respirasi.

Klasifikasi
Klasifikasi tokek adalah sebagai berikut:
Kingdom         : Animalia
Fylum              : Chordata
Subfylum        : Vertebrata
Kelas               : Reptilia
Familia            : Scineidae
Genus              : Gecko
Species            : Gecko Gecko


BAB III
METODE PENELITIAN

1.1         Waktu dan tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 06 Desember 2011, pada pukul 15.00 sampai selesai, di laboratorium Tadris MIPA IAIN Raden Fatah Palembang.
1.2         Alat dan bahan
1.        Alat : pensil, pena, penggaris, kertas HVS, penghapus, karter, gunting,     talanan, plastik.
2.      Bahan : tokek ( Gecko gecko )
1.3         Cara kerja
1. Siapkan alat-alat yang akan di gunakan, seperti; karter, gunting, pena, pensil, kertas HVS dan sebagainya.
2. Ambillah preparat (tokek) yang akan di teliti.
3. Gambar morfologitokek tersebut.
4. Seset kulit tokek kemudian belah tokek.
5. Amati organ tubuh tokek bagian dalam untuk mengetahui jenis kelamin, system pencernaan, system organ, system respirasi, kemudian gambar dari masing-masing bagian tersebut.
6. Bedah bagian kepala untuk melihat otak, kemudian gambar.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil
Keterangan
Morfologi
1. Nares anteriores
2. Rima oris
3. Organon visus
4. Membrane tympani
5. Falcula
6. Digity
7. Manus
8. Antebrachium
9. Brachium
10.  Squama
11.  Femur
12.  Crus
13.  Pes
14.  Cauda



Cavum Oris
1. Choana primer
2. Dentes
3. Pelatum
4. Choana sekunder
5. Ostiumtubae auditivae
6. Pharynx
7. Rima glottidis
8. Lingua

Topographi
1. Trachea
2. Cor
3. Pulmo
4. Hati
5. Vesica Felea
6. Ventriculus
7. Duodenum
8. Pancreas
9. Ovarium
10.  Intestinum tenue
11.  Ductus derens
12.  Rectum
13.  Vesica urinaria
14.  Ren



Systema Digestorium
1. Esophagus
2. Ventriculus
3. Duodenum
4. Intestinus venue
5. Coecum
6. Rectum
7. Cloaca
8. Hepar
9. Vesica fellea
10.  Pancreas




Respiratium
1. Larynx
2. Trachea
3. Bifurcation trachea
4. Bronchus
5. Pulmo
6. Annulus trachealis
7. Rima glotidis








Systema urogenitale feminina
1. Ovarium
2. Cloaca
3. Vesica urinaria
4. Ureter
5. Ren



encephalon

1.   Bulbus olfactorius
2.   Tractus olfactorius
3.   Lobus olfactorius
4.   Epiphysis
5.   Mesencephalon
6.   Cerebellum
7.   Fossa rrhombodiae
8.   Medulla oblongata



4.2 Pembahasan Dari Gambar
1.      Morfologi
a.    Caput (kepala)
Bentuknya agak pyramidal, meruncing ke arah cranial dan memipih dalam arah dorso ventral. Pada caput terdapat:
ü  Rima oris, sebagai celah melintang lebar pada ujung anterior caput.
ü  Labium superius dan intefireus yang membatasi rima oris.
ü  Organon visos, disini terdapat: palpebra superior dan palpebra inferior, yang keduanya dapat digerakkan. Membrana nictitans berwarna keputihan di sudut anterior orbita internal dari palpebra yang dapat menutup seluruh mata.
ü  Nares anteriores, pada ujung muka atas maxillia, sebagai lubang kecil, sepasang.
ü  Lubang telinga, sepasang terletak dibelakang mata, didapati membrana tympani yang terletak agak ke dalam.
b.    Cervix (collum)
Panjang dan melanjutkan diri sebagai truncus.
c.    Truncus (badan)
Bentuk memanjang, convex dalam arah dorsalateralis dan datar di bagian ventral. Bagian dorsal berwarna coklat kekuningan dan bagian ventral putih. Extremitas cranialis, disebelah craniolateral trunchus, sepasang kanan dan kiri, dengan bagian- bagiannya:
ü  Brachium (lengan atas)
ü  Antebrachium (lengan bawah)
ü  Manus (telapak tangan), dengan 5 digity yang berfalcula. Pollux adalah digity terkecil, sebagia digity nomor 1; nama- nama digity: pollux, secunous, medius, annulus dan minimus.
Extremitas caudalis, disebelah laterocaudal truncus, juga sepasang, dengan bagian- bagiannya:
ü  Femur (paha, tungkai atas)
ü  Crus (tungkai bawah)
ü  Pes (telapak kaki), dengan 5 digity yang berfalcula.
Cloaca, berbentuk sebagai celah yang melintang, terdapat disisi ventral ujung caudal trunchus pada basis cauda.
d.   Caudal
Bentuknya silindris, panjangnya hampir dua kali panjang badan dan kepala. Bagian pangkal tebal makin meruncing ke arah distal.
e.    Squama
Merupakan exoskeleton (skeleton yang terjadi pada dinding dataran luar badan). Terdiri dari bahan tanduk. Jadi terbentuknya melalui proses cornificatio. Terbentuk karena adanya lipatan- lipatan corium yang kemudian masing- masing lipatan tersebut tertutup oleh epidermis yang menanduk tebal akibat kekurangan makanan (epidermis lama- lama mengering dan menanduk).

2.      Cavum oris (rongga mulut)
Pada celah mulut disokong oleh maxilla(rahang atas) dan mandubla (rahang bawah). Masing- masing mempunyai deretan dentes berbentuk conus. Gigi bertipe pleurodont, artinya menempel pada sisi samping gingiva (gusi), sedikit melengkung ke arah medial cavum oris. Palatum pada bagian medialnya membentuk lipatan longitudinal, sehingga terbentuk alur lengitudinal.
ü  Lingua, pada dasar mulut, melekat pada tulang lidah (os hyoideum), dengan pangkal terdapat di sebelah caudal cavum oris.
ü  Pharynx (tekak)
ü  Rima glottidis sebagai celah di belakang lingua menuju ke ruang larynx.
ü  Choana primer; bagian cranial alur di atas.
ü  Choana sekunder; muara keluar alur ke dalam cavum oris.
ü  Ostium tubae auditivae

3.      Topography
ü  Trachea, sebagai lanjutan larynx, terdapat di ventral dari collum, panjang, dindingnya tersusun atas lingkaran- lingkaran tulang rawan: annulus trachealis.
ü  Cor; terletak medial di bagian cranioventral rongga thorax (dorsal dari mesoternum dan episternum)
ü  Pulmo, sepasang, dexter dan sinester, fusiform. Struktur dalam pulmo seperti sarang lebah.
ü  Hepar, 2 lobi, sinister dan dexter, berwarna coklat kemerahan.
ü  Vesica fellea, pada tepi caudal lobus dexter hepatis.
ü  Pancreas, antara ventriculus dan duodenum, berwarna kekuningan, berbentuk pipih.
ü  Ovarium, sepasang berbentuk ovoid dengan dataran luarnya berbenjol- benjol, letaknya tepat di ventral columna vertebralis, agak sedikit caudal dari pertengahan badan.
ü  Intestinum tenue (usus halus)
ü  Ductus darens
ü  rectum
ü  Vesica urinaria, sebagai kantung tipis, merupakan tonjolan dinding ventral cloaka.
ü  Ren, berjumlah sepasang, berwarna coklat- merah, masing- masing terdiri dari 2 lobi: lobus posterior dan lobus anterior.

4.      Systema Digestorium
ü  Esophagus
ü  Ventrculus, sebagai pelebaran esophagus yang silindris berdinding musculer tebal.
ü  Duodenum (intestinum crassum); usus besar, berfungsi sebagai pengganti rectum.
ü  Intestinum tenue (usus halus).
ü  Coecum, amat pendek pada batas intestinum tenue dan intestinum crassum.
ü  Cloaka
ü  Hepar
ü  Vesica fellea
ü  Pancreas



5.      Respiratium
ü  Larynx, dindingnya dibentuk oleh beberapa tulang rawan (pada lacerta didapatkan cartilago arythenoidea yang berjumlah sepasang dan cartilago cricaidea yang tunggal).
ü  Trachea, sebagai lanjutan dari larynx.
ü  Bifurcatio trachea, daerah percabangan di bronchus.
ü  Bronchus; masuk dan berccabang- cabang dalam pulmo.
ü  Pulmo, sepasang.
ü  Annulus trachealis; lingkaran- lingkaran tulang rawan.
ü  Rima glottidis;celah di belakang lingua.

6.      Systema urogenitale feminina
ü  Ovarium; sepasang berbentuk ovoid dengan dataran luarnya berbenjol- benjol, letaknya tepat di ventral columna vertebralis, agak sedikit caudal dari pertengahan badan.
ü  Cloaka
ü  Vesica urinaria; sebagai kantung tipis, merupakan tonjolan dinding ventral cloaka.
ü  Ureter; sepasang, keluar dari sisi ventral agak medial dari ren. Pada hewan jantan sebelum bermuara ke cloaka bersatu dulu dengan vas deferens, tapi pada hewan betina bermuara langsung.
ü  Ren; berjumlah sepasang, berwarna coklat- merah, masing- masing terdiri dari 2 lobi: lobus posterior dan lobus anterior.

7.      Encephalon
ü  Bulbus olfactorious
ü  Tractus olfactorious
ü  Lobus olfactorious, yang ke cranial melanjutkan diri sebagai tractus olfactorious dan berakhir sebagai bulbus olfactorious yang menonjol.
ü  Epiphysis, amat kecil, mediocranial lobus opticus (berasal dari diencepahalon).
ü  Mesenchephalon (lobus opticus), sebagian tertutup hemisphaerium cerebri. Terbagi dua oleh sulcus medianus menjadi corpora bigemina.
ü  Cerebellum (mecencephalon),relatif kecil.
ü  Medulla oblongata, bagian muka lebar, punya cekungan fossa rhomboidea yang sebagian tertutup cerebelum

BAB V
KESIMPULAN
Reptilia adalah salah satu hewan kelas vertebrata dalam kelompok hewan yang melata. Tubuh reptil umumnya tertutupi oleh sisik-sisik yang beraneka bentuk, terkecuali anggota suku Amphisbaenidae yang tak bersisik. Sisik-sisik itu berupa modifikasi lapisan kulit luar (epidermis) yang mengeras oleh zat tanduk, dan terkadang dilengkapi dengan pelat-pelat tulang di lapisan bawahnya.


DAFTAR PUSTAKA

Asisten Praktikum I.1990.Anatomi Hewan. PS BIOLOGI P MIPA FT UNSRI
Radiopoetro.1996.Zoologi. Jakarta
Slamet Adeng dan Madang Kodri.2007.Zoologi Vertebrata. Indralaya
Djunanda, Tatang. 1982. Anatomi dari 4 Spesies Hewan Vertebrata. Armico. Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar